Ulas Buku: Sungging (by Alan TH)

December 05, 2017

Details: Penerbit KPG

Buku ini termasuk buku cerita sejarah yang nggak mainstream, ya. Mulai dari covernya aja udah beda, nggak seperti buku-buku sejenisnya yang biasanya dari pemilihan gambar, font, dan warna untuk sampulnya aja udah bernuansa historical. Sungging ini justru memakai cover dengan lukisan cat air yang abstrak, dan karena itu dia jadi menarik. Lalu setelah iseng googling, barulah ku tau kalau menurut kbbi.web.id: sung·ging1 n lukisan (perhiasan) diwarnai dengan cat (air mas dan sebagainya): juru --; seni --; 

Makin menariknya lagi adalah genre ceritanya fiksi sejarah (nggak tau ini bener atau nggak istilahnya). Ceritanya memakai latar sejarah Singhasari era Kertanegara yang pemikirannya sangat global dan nasionalis itu, termasuk bagaimana ia memulai cita-citanya untuk menyatukan Nusantara yang kelak akan diteruskan pewaris-pewarisnya, lalu babak runtuhnya Kadiri yang dibangun ulang oleh Jayakatwang setelah meruntuhkan Singhasari, berlanjut ke berdirinya Majapahit karena kemenangan Raden Wijaya yang memberontak terhadap Kadiri meskipun harus menggunakan bantuan dari Mongolia yang dimusuhi bangsanya, sampai pada masa keemasan Mahapatih Gajah Mada dan cerita di balik Sumpah Palapa-nya. Uniknya, pembaca diajak berpetualang di masa-masa tersebut menggunakan sudut pandang ketiga, yaitu si tokoh utama yang bernama Sungging. Tokoh fiksi ini yang akan membawa kita mengikuti alur-alur cerita sejarah kedigdayaan kerajaan-kerajaan tersebut lengkap dengan intrik politik perebutan kekuasan dan perang-perang saudara di dalamnya.

Didominasi dengan cerita-cerita silat dan siasat-siasat perang, ngikutin alur pengembaraannya si Sungging jadi seru banget! Meskipun masih ada beberapa part yang terasa 'kosong' karena harus membelokkan cerita sejarah yang ada demi menyempurnakan cerita yang dibawakan karakternya, tapi buku ini masih menarik dibaca untuk menambah wawasan dan imajinasi kita tentang kehidupan masyarakat Jawa Dwipa di masa lampau. Kita juga akan melihat kalau ciri dan budaya politik orang-orang Indonesia rupanya juga berakar dari masa lalu, penuh dendam dan tipu muslihat, tak jarang juga rela mengorbankan golongannya sendiri.

You Might Also Like

0 comments